Bandar Lampung (Lampost.co) — Istilah “quiet quitting” ramai menjadi perbincangan, khususnya di kalangan generasi muda yang memandang pekerjaan dengan perspektif berbeda.
Berbeda dengan generasi sebelumnya yang cenderung bekerja all-out, banyak anak muda kini memilih kerja sesuai gaji tanpa usaha ekstra jika tidak seimbang dengan kompensasi yang setimpal.
Fenomena itu memicu perdebatan: apakah quiet quitting adalah evolusi budaya kerja, atau bentuk protes terhadap sistem ekonomi yang kurang manusiawi?
Gaya Baru Bekerja
Generasi muda semakin enggan bekerja berlebihan tanpa imbalan sepadan. Quiet quitting bukan sekadar malas bekerja, melainkan upaya menjaga batas dalam hubungan kerja.
Generasi ini menegaskan kontrak kerja cukup jelas. Sehingga, jika atasan meminta lebih tanpa kompensasi tambahan, mereka memilih untuk tidak memberikan lebih juga.
Hal itu dijelaskan dalam penelitian dalam Academy of Management Journal berjudul The Silent Protest: Job Crafting and Employee Silence.
Quiet quitting adalah bentuk silent protest terhadap ekspektasi kerja yang tak seimbang, sebagai respons atas kejenuhan terhadap ekspektasi yang terlalu tinggi.
Fenomena itu hadir di tengah tuntutan pekerjaan modern yang tak kenal henti, deadline ketat, responsivitas 24/7, hingga budaya grind.
Sehingga, banyak pekerja akhirnya memilih untuk menetapkan batasan yang lebih manusiawi dan selaras dengan kesejahteraan mental.
Kritik terhadap Sistem Ekonomi
Quiet quitting dapat menjadi tanda ketidakpuasan lebih besar terhadap sistem ekonomi saat ini. Generasi ini mulai sadar peningkatan produktivitas kerap tidak sejalan dengan kesejahteraan karyawan.
Menurut Harvard Business Review, quiet quitting adalah tanda ketidakpuasan pekerja yang merasa kurang terlibat secara emosional.
Jika ekspektasi kerja terus meningkat tanpa peningkatan benefit, gerakan ini menjadi bentuk “protes sunyi”. Hal itu sebagai pesan tenaga kerja menuntut keadilan dan hak yang lebih baik.
Untuk itu, tidak ada lagi kerja ekstra demi promosi karena mereka paham kerja keras hanyalah langkah pertama, bukan jaminan segalanya.
Generasi ini menginginkan kehidupan yang lebih seimbang dan memilih untuk mempertahankan kesehatan mental. Selain itu, waktu pribadi daripada terjebak dalam rutinitas kerja tanpa kebahagiaan.
Bekerja bukan hanya soal mencari nafkah, tetapi juga soal menjalani hidup yang bermakna.
Elizabeth Gilbert berkata “Perhatikan di mana energimu terfokus, karena di situlah kehidupanmu akan bertumbuh.” Generasi quiet quitting memilih menjaga energi mereka untuk hal-hal yang benar-benar bernilai.
Quiet quitting bukanlah tanda kemalasan atau ketidakpedulian, tetapi cara generasi muda menetapkan batas demi kualitas hidup yang lebih baik. Mereka yang melakukan quiet quitting bukan berhenti bekerja, melainkan hanya melakukan yang cukup sesuai kontrak.
Hal itu adalah pesan halus jika perusahaan ingin hasil lebih, maka harus ada kompensasi yang sepadan.
Beberapa perusahaan masih berpegang pada pandangan lama bahwa karyawan produktif adalah yang bersedia bekerja lebih dari yang diharapkan. Namun, era quiet quitting menantang pandangan itu.
Para pekerja muda lebih memilih menjaga keseimbangan hidup daripada mengorbankan kesehatan mental. Mereka memahami hidup tidak hanya untuk bekerja dan mengejar promosi. Fenomena itu menjadi bukti dari kesadaran generasi untuk memperjuangkan hak dan kebahagiaan di luar pekerjaan.
Tantangan Baru Perusahaan
Quiet quitting bisa menjadi tantangan besar bagi para manajer dan pemilik usaha. Perusahaan perlu beradaptasi dengan ekspektasi tenaga kerja masa kini yang menuntut keseimbangan antara hak pekerja dan keuntungan bisnis.
Fenomena ini bisa jadi awal dari perubahan besar di dunia kerja. Fenomena itu menunjukkan generasi ini tidak ingin bekerja tanpa henti tanpa kejelasan kesejahteraan.
Budaya kerja yang ideal kini bukan lagi tentang lembur, tetapi menyeimbangkan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Adanya perubahan itu memunculkan harapan budaya kerja di masa depan akan lebih harmonis dan menghargai kesejahteraan karyawan.








