BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) — Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Lampung memperkuat peran strategis untuk memperkokoh fondasi perekonomian daerah. Saat ini, BI memfokuskan arah kebijakan pada sektor pertanian sebagai tulang punggung utama ekonomi Bumi Ruwa Jurai.
Poin Penting
- Sektor Prioritas: Pertanian tetap menjadi penyumbang PDRB terbesar bagi Provinsi Lampung.
- Hilirisasi: BI menekankan pentingnya pengolahan produk mentah menjadi produk turunan bernilai tinggi.
- Ketahanan Iklim: Perlunya mitigasi terhadap cuaca ekstrem guna menjaga stabilitas produksi pangan.
- Ekonomi Desa: Desa berperan vital sebagai fondasi kekuatan ekonomi daerah secara menyeluruh.
- Proyeksi Ekonomi: BI menargetkan pertumbuhan ekonomi Lampung mencapai kisaran 5,5% hingga 6%.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, Bimo Epyanto, menegaskan bahwa sektor pertanian berkontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Oleh karena itu, BI aktif memberikan rekomendasi kebijakan guna memastikan pertumbuhan sektor ini berjalan berkelanjutan.
Baca juga : Pemprov Lampung Dorong Ekonomi Desa dan Kendalikan Inflasi
“Pertanian adalah lapangan usaha utama di Lampung. Tantangannya sekarang bukan hanya menjaga produksi, tetapi juga meningkatkan kualitas dan daya saingnya,” kata Bimo.
Mitigasi Risiko dan Peningkatan Nilai Tambah
Meskipun menjadi motor penggerak, Bimo mengingatkan bahwa sektor pertanian masih rentan terhadap risiko perubahan iklim. Cuaca ekstrem berpotensi besar mengganggu stabilitas hasil panen masyarakat. Untuk menjawab tantangan itu, BI mendorong peningkatan produktivitas sekaligus penguatan nilai tambah komoditas.
Bimo menjelaskan bahwa komoditas unggulan Lampung tidak boleh berhenti sebagai bahan mentah saja. Pengembangan produk turunan menjadi kunci utama agar manfaat ekonomi tersebar lebih merata.
“Komoditas harus diolah menjadi produk bernilai tambah. Dengan begitu, dampaknya tidak hanya pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga langsung meningkatkan kesejahteraan petani,” ujarnya.
Desa sebagai Pusat Pertumbuhan Baru
Penguatan sektor primer ini sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat dan daerah yang menjadikan desa sebagai pusat pertumbuhan. Mengingat, hampir seluruh komoditas unggulan Lampung berasal dari wilayah perdesaan.
“Basis ekonomi kita ada di desa. Jika desa kuat, maka ekonomi daerah juga akan kokoh,” tambahnya.
Melalui strategi yang terarah dan stabilitas ekonomi yang terjaga, BI optimistis kinerja Lampung akan terus menanjak. Bimo memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Lampung berpeluang menembus angka 5,5 hingga 6 persen pada periode mendatang. Angka ini diprediksi melampaui capaian pada tahun 2025.
“Selama tidak ada gejolak besar dan volatilitas tetap terkendali, peluang itu sangat terbuka,” pungkasnya.








