Jakarta (Lampost.co) — Kenaikan harga bahan pangan sepanjang 2025 menekan daya beli rumah tangga Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan mencapai 2,92 persen year-on-year. Angka itu menjadi inflasi tertinggi sejak 2022 yang mencatat level 5,51 persen.
Lonjakan inflasi terutama datang dari kelompok makanan dan minuman. Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi kontributor terbesar inflasi tahunan 2025. Kelompok itu mencatat inflasi 4,58 persen dengan andil 1,33 persen.
BPS menempatkan kelompok itu sebagai penyumbang utama inflasi nasional. Tekanan harga paling terasa pada kebutuhan konsumsi harian masyarakat. Komoditas dengan dampak terbesar meliputi cabai merah, cabai rawit, beras, ikan segar, dan ayam ras.
Kenaikan harga komoditas itu langsung memengaruhi pengeluaran rumah tangga. Pergerakan harga pangan kembali menjadi faktor dominan pembentuk inflasi nasional.
Situasi itu menegaskan rapuhnya stabilitas harga kebutuhan dasar. Dalam lima tahun terakhir, inflasi pangan menunjukkan pergerakan yang fluktuatif. Pada 2020 dan 2021, inflasi pangan relatif terkendali.
Inflasi kelompok itu tercatat 3,63 persen pada 2020 dan 3,09 persen pada 2021. Tekanan harga meningkat tajam pada 2022 dan 2023. Inflasi pangan melonjak ke 5,83 persen pada 2022 dan 6,18 persen pada 2023.
Harga mulai mereda pada 2024 seiring perbaikan pasokan domestik. Pada 2024, inflasi pangan turun ke level 1,90 persen. Namun, tren tersebut berbalik arah sepanjang 2025.
Inflasi kelompok makanan kembali naik menjadi 4,58 persen year-on-year. Kondisi itu berpotensi menekan konsumsi dan memperlemah daya beli masyarakat.
Peningkatan Angka Kemiskinan
Data PIHPS menunjukkan banyak komoditas pangan mengalami kenaikan harga tahunan. Bawang merah naik dari Rp39.124 menjadi Rp45.329 per kilogram. Kenaikan harga bawang merah mencapai 15,86 persen dalam setahun.
Cabai rawit merah juga mengalami lonjakan signifikan. Harga cabai rawit naik dari Rp56.873 menjadi Rp65.753 per kilogram. Kenaikan tersebut setara 15,61 persen.
Harga minyak goreng ikut meningkat sepanjang 2025. Rata-rata harga naik dari Rp19.308 menjadi Rp20.938 per liter. Cabai merah besar juga mencatat kenaikan sebesar 5,07 persen. Harga naik dari Rp50.745 menjadi Rp53.317 per kilogram.
Berbeda dengan komoditas lain, bawang putih mengalami penurunan harga. Rata-rata harga turun 1,70 persen menjadi Rp42.469 per kilogram. Lonjakan harga pangan patut menjadi perhatian serius pemerintah.
Sebagian besar pengeluaran warga miskin terserap untuk kebutuhan makanan. Sekitar 75 persen pengeluaran masyarakat miskin dialokasikan untuk pangan.
Kenaikan harga berisiko mendorong peningkatan angka kemiskinan. Pengendalian harga pangan menjadi kunci menjaga stabilitas inflasi ke depan. Kebijakan pasokan dan distribusi akan menentukan daya tahan konsumsi nasional.








