Bandar Lampung (Lampost.co) — Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menegaskan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih harus berperan dalam memperkuat hilirisasi produk lokal dan menumbuhkan ekonomi desa.
Pemerintah Provinsi Lampung terus memberikan dukungan terhadap pengembangan Koperasi Merah Putih yang tersebar di berbagai wilayah. “Kami sangat memperhatikan perkembangannya karena memiliki potensi besar untuk menggerakkan ekonomi rakyat,” ujar Mirzani.
Dia berharap Kopdes Merah Putih mampu memperkuat rantai nilai produk pertanian dan perkebunan lokal, sekaligus menjaga harga komoditas agar tetap stabil. “Kami ingin koperasi itu mendorong peningkatan harga dan produksi komoditas desa. Sehingga, nilai tambah dan perputaran ekonomi di desa semakin besar,” ujarnya.
Ia menambahkan, penguatan sektor hilir menjadi kunci agar hasil produksi masyarakat tidak berhenti di tingkat bahan mentah. Namun, bisa terolah menjadi produk siap jual. Hal itu mampu meningkatkan kesejahteraan petani dan pelaku usaha kecil di Lampung.
Akses Permodalan dan Penggerak Ekonomi
Selain memperkuat hilirisasi, kehadiran Kopdes Merah Putih juga membuka akses pembiayaan bagi pelaku usaha desa. Lembaga keuangan itu dapat menjadi wadah strategis bagi masyarakat desa untuk memperoleh modal dan mengembangkan usahanya.
“Program itu kami dorong agar pembangunan ekonomi desa berjalan efektif, inklusif, dan berkelanjutan di seluruh daerah Lampung,” kata kepala daerah tersebut.
Ia menegaskan, sinergi antara pemerintah daerah, koperasi, dan masyarakat menjadi kunci utama untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang merata hingga ke pelosok desa.
Berdasarkan data Sistem Informasi Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih per 17 Oktober 2025, terdapat 2.650 desa dan kelurahan di seluruh Lampung. Dari jumlah itu, Koperasi Desa Merah Putih yang berbadan hukum mencapai 2.505 unit. Sementara Koperasi Kelurahan Merah Putih 211 unit. Totalnya ada 2.715 koperasi yang resmi terdaftar.
Untuk itu, pihaknya berkomitmen menjadikan koperasi desa sebagai pondasi kemandirian ekonomi masyarakat. Sehingga, desa tidak hanya menjadi produsen bahan mentah, tetapi juga pelaku utama dalam pengolahan dan pemasaran produk lokal.
Dia optimistis, model koperasi itu terus berkembang dan Lampung menjadi salah satu provinsi dengan sistem ekonomi desa paling maju di Indonesia.







