Bandar Lampung (lampost.co)–Perekonomian Provinsi Lampung menunjukkan performa gemilang dengan mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,54% (yoy) pada triwulan IV 2025. Capaian ini melampaui pertumbuhan triwulan sebelumnya yang berada di angka 5,04% (yoy). Alhasil, secara kumulatif, ekonomi Lampung sepanjang tahun 2025 tumbuh kokoh sebesar 5,28% (yoy).
Akselerasi ini terjadi karena dorongan kuat permintaan domestik, terutama dari sektor konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,10% dan investasi yang naik 5,41%. Selain itu, momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru turut mendongkrak mobilitas masyarakat.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, Bimo Epyanto, menjelaskan bahwa penguatan ini merupakan sinyal positif bagi daya beli masyarakat.
“Pertumbuhan ekonomi Lampung pada triwulan IV 2025 utamanya didukung oleh permintaan domestik. Kinerja konsumsi rumah tangga meningkat seiring kenaikan permintaan dan mobilitas masyarakat,” ujar Bimo Epyanto dalam keterangannya, baru-baru ini.
Dari sisi lapangan usaha, sektor Pertanian, Industri Pengolahan, dan Perdagangan menjadi kontributor terbesar. Sektor pertanian tumbuh 5,65% seiring dengan meningkatnya produksi jagung dan kelapa sawit. Sementara itu, sektor industri pengolahan menguat berkat tingginya permintaan ekspor komoditas kopi dan olahan minyak nabati.
Memasuki tahun 2026, Bank Indonesia memproyeksikan ekonomi Lampung akan tumbuh lebih tinggi pada kisaran 5,0% hingga 5,6%. Bimo Epyanto menegaskan bahwa sinergi antara pemerintah pusat dan daerah akan menjadi kunci utama dalam menjaga momentum ini.
“Kami memandang kinerja positif ini akan berlanjut. Untuk tahun 2026, pertumbuhan ekonomi Lampung diprakirakan meningkat didukung penguatan permintaan domestik serta permintaan eksternal yang tetap terjaga,” ungkap Bimo.
Tiga Strategi
Guna memastikan pertumbuhan yang inklusif, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Lampung telah menyiapkan tiga strategi strategis. Pertama, BI akan memperkuat sektor primer dan stabilisasi harga melalui peningkatan produktivitas pertanian. Kedua, BI mendorong hilirisasi komoditas unggulan dan promosi investasi. Terakhir, BI mempercepat digitalisasi keuangan daerah untuk meningkatkan efisiensi transaksi.
“Ke depan, kami terus memperkuat sinergi dengan Pemerintah Daerah melalui penguatan sektor primer, peningkatan nilai tambah investasi, serta percepatan digitalisasi ekonomi guna mendukung optimalisasi PAD,” pungkas Bimo Epyanto.
Meskipun optimis, Bimo mengingatkan semua pihak untuk tetap waspada terhadap sejumlah risiko global yang dapat memengaruhi arus perdagangan antar daerah di masa mendatang.








