Jakarta (Lampost.co): Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi memberikan apresiasi atas keterlibatan petugas haji perempuan yang mencapai 33 persen pada penyelenggaraan ibadah haji 2026.
Arifatul menilai angka tersebut mencerminkan kemajuan penting dalam penyelenggaraan haji Indonesia. Ia menyebut kehadiran petugas perempuan mampu menjawab kebutuhan khusus jemaah perempuan yang tidak selalu dapat ditangani oleh petugas laki-laki.
“Angka ini mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah haji Indonesia. Saya merasa sangat bahagia melihat peran besar petugas haji perempuan,” ujar Arifatul setelah menyampaikan pembekalan kepada calon petugas haji 2026 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Rabu (28/1) malam WIB.
Menurut Arifatul, penyelenggara haji perlu menjaga kecukupan jumlah petugas perempuan. Ia menegaskan bahwa jemaah perempuan, khususnya lansia, membutuhkan pendampingan yang sensitif dan responsif.
Ia menyinggung persoalan pengaturan kamar jemaah perempuan, terutama kamar yang dihuni lansia. Arifatul mendorong pengelola haji untuk mencampurkan jemaah lansia dengan jemaah yang lebih muda agar tercipta saling bantu selama di pemondokan.
“Kami mendorong pengaturan kamar yang lebih berimbang. Jemaah yang lebih muda dapat membantu lansia, karena pada musim haji sebelumnya ada lansia yang mengalami kesulitan menuju kamar kecil,” jelasnya.
Arifatul menegaskan pentingnya pendekatan yang ramah terhadap perempuan, lansia, dan penyandang disabilitas. Ia mengingatkan bahwa mayoritas jemaah haji Indonesia berasal dari kelompok tersebut.
Dalam kesempatan yang sama, Arifatul mengingatkan seluruh petugas haji agar melayani jemaah dengan empati, memahami kebutuhan yang beragam, serta memberikan rasa aman selama pelaksanaan ibadah haji.
Ia menambahkan bahwa petugas haji merepresentasikan kehadiran negara di tengah jemaah. Menurutnya, sikap, kepekaan, dan kepedulian petugas di lapangan sangat menentukan mutu pelayanan haji Indonesia.








