Bandar Lampung (Lampost.co) — Dunia kedokteran jantung Indonesia kembali mencatatkan tonggak penting.
Jakarta Heartology Cardiovascular Hospital berhasil menorehkan prestasi berkelas dunia dengan melakukan Minimally Invasive Cardiac Surgery (MICS) yang mengombinasikan Mitral Valve Repair (MVr). Atrial Septal Defect (ASD) Closure, dan Tricuspid Valve Repair (TVr) dalam satu tindakan pada satu pasien.
Pencapaian ini menjadi yang pertama di Indonesia dan sekaligus menempatkan Heartology sebagai rumah sakit ketiga di dunia yang sukses melaksanakan prosedur kompleks tersebut dengan hasil klinis optimal.
Baca juga: RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Hadirkan Sistem Admisi Terintegrasi untuk Kenyamanan Pasien
rwakarta datang dengan keluhan mudah lelah, jantung berdebar, dan sesak napas yang semakin memberat.
Pemeriksaan awal oleh dr. Radityo Prakoso, Sp.JP(K) mengungkap adanya Atrial Septal Defect (ASD). Yakni lubang pada sekat jantung yang menyebabkan aliran darah tidak normal antara serambi kanan dan kiri.
Kondisi tersebut kemudian semakin jelas melalui pemeriksaan echocardiography lanjutan oleh dr. Ario Soeryo Kuncoro, Sp.JP(K), FIHA.
Pada pemeriksaan tersebut menemukan bahwa lubang di sekat jantung sudah berukuran besar dan berdampak serius pada fungsi dua katup jantung sekaligus. Yaitu katup mitral dan trikuspid.
“Pada tahap ini, masalahnya bukan lagi sekadar lubang di sekat jantung. Beban jangka panjang telah memengaruhi kerja katup mitral dan trikuspid, sehingga dibutuhkan tindakan korektif yang menyeluruh. Diagnosis yang presisi menjadi kunci keberhasilan operasi,” jelas dr. Ario.
Operasi Kompleks dengan Sayatan Minimal
Melalui pendekatan multidisipliner, tim Heartology memutuskan melakukan tindakan korektif komprehensif menggunakan teknik Minimally Invasive Cardiac Surgery (MICS).
Teknik ini memungkinkan operasi berjalan melalui sayatan kecil. Sehingga trauma jaringan lebih minimal, pemulihan lebih cepat, dan kenyamanan pasien meningkat.
Operasi berisiko tinggi ini dipimpin oleh dr. Dicky A. Wartono, Sp.BTKV, bersama dr. Akmal A. Sembiring, Sp.BTKV, dan dr. Rynaldo P. Hutagalung, Sp.BTKV.
Tantangan utama terletak pada penggabungan tiga prosedur mayor dalam satu tindakan melalui ruang operasi yang sangat terbatas.
“Prosedur ini termasuk kategori high-complexity MICS. Kami melakukan koreksi pada tiga area vital jantung secara simultan. Hasilnya sangat memuaskan,” ujar dr. Dicky.
Secara global, tindakan serupa baru pernah melaporkan dalam dua publikasi medis internasional.
Dengan keberhasilan ini, Heartology resmi menjadi pusat ketiga di dunia yang mendokumentasikan tindakan ASD closure. Mitral valve repair, dan tricuspid valve repair melalui MICS, serta yang pertama di Indonesia.
Pulih Cepat, Harapan Baru
Hasil klinis pascaoperasi menunjukkan pemulihan yang sangat baik. Fungsi jantung pasien kembali stabil. Keluhan sesak napas berkurang drastis, dan hanya enam hari pascatindakan, pasien sudah dapat kembali beraktivitas ringan.
“Kasus ini membuktikan bahwa integrasi diagnosis presisi, teknologi pencitraan canggih. Kemudian teknik bedah modern dapat menerapkan secara kolaboratif di Indonesia,” tutur dr. Radityo Prakoso.
Keberhasilan ini bukan hanya menjadi kabar baik bagi dunia medis. Tetapi juga membuka harapan baru bagi pasien jantung di Tanah Air. Bbahwa tindakan bedah jantung berteknologi tinggi kini dapat dilakukan di dalam negeri dengan standar global.








