Bandar Lampung (Lampost.co) — Program Kelas Migran Vokasi Pemerintah Provinsi Lampung kian menunjukkan geliat positif, Sektor Pertanian Jadi Primadona Kelas
Migran Vokasi.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, Thomas Amirico mengatakan dari hasil penjaringan minat peserta.
Sektor pertanian muncul sebagai salah satu pilihan paling siswa minati yang bersiap menembus pasar kerja Jepang.
Setelah lulus, para peserta tidak langsung berangkat. Mereka lebih dulu mengikuti masa pemantapan selama kurang lebih tiga bulan.
Pada tahap ini, pelatihan fokus sesuai bidang kerja yang mereka pilih, bekerja sama dengan berbagai Lembaga Pelatihan Kerja (LPK), baik lingkungan sekolah maupun luar sekolah, menyesuaikan kebijakan masing-masing kabupaten/kota.
Untuk memastikan proses penempatan berjalan lancar, Pemprov Lampung menggandeng sejumlah instansi strategis, antaranya Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI), Dinas Tenaga Kerja, serta Bank Lampung.
Kolaborasi ini mencakup pendampingan administrasi, perlindungan pekerja, hingga dukungan pembiayaan.
Tingginya minat perusahaan Jepang terhadap tenaga kerja asal Lampung turut menjadi angin segar.
Sejumlah perusahaan bahkan datang langsung untuk melakukan seleksi sekaligus memberikan pelatihan awal, terutama pada sektor konstruksi.
Tercatat sekitar 500 siswa telah mendapatkan penguatan keterampilan di bidang tersebut dan berpeluang besar direkrut.
“Perusahaan Jepang melihat langsung kesiapan siswa kita. Ini peluang besar bagi generasi muda Lampung untuk berkarier ke luar negeri,” ujar Thomas.
Saat ini, jumlah peserta Kelas Migran Vokasi mencapai sekitar 8.000 siswa.
Meski demikian, tantangan utama masih terletak pada penguasaan bahasa Jepang tidak mudah.
Pemerintah pun mengevaluasi kemungkinan memulai pembelajaran bahasa lebih awal, sejak kelas 10 atau 11, agar target sertifikasi level N4 dapat tercapai secara optimal sebelum kelulusan.
Investasi Jangka Panjang
Program ini tidak sekadar membuka peluang kerja ke luar negeri, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang pembangunan sumber daya manusia.
Dengan potensi penghasilan rata-rata mencapai Rp20 juta per bulan, remitansi yang terkirim ke keluarga kampung halaman mampu menggerakkan roda ekonomi desa.
Jika separuh penghasilan tersebut terkirim secara rutin, perputaran uang tingkat keluarga dan desa dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lokal secara signifikan.
Ke depan, Pemprov Lampung berharap para lulusan yang kembali dari Jepang tidak hanya membawa pengalaman kerja internasional, tetapi juga keterampilan dan modal usaha untuk membangun daerah.
Melalui Kelas Migran Vokasi, Lampung menargetkan lahirnya generasi muda berdaya saing global yang siap menjadi motor penggerak ekonomi masa depan.