Kotaagung (Lampost.co) – Sejumlah pelajar di Kecamatan Pematang Sawa, Kabupaten Tanggamus, harus mempertaruhkan nyawa setiap hari demi bersekolah. Mereka terpaksa melintasi jembatan gantung yang sudah rusak parah, dengan kondisi besi patah, papan hilang, dan tali pengikat kendor.
Pemandangan itu terlihat pada Selasa, 26 Agustus 2025.
Anak-anak berseragam putih biru dan putih abu-abu berjalan beriringan, berpegangan pada sebatang bambu sambil meniti besi karatan. Di bawahnya, aliran sungai berwarna hijau toska mengalir deras, siap menelan siapa saja yang terjatuh.
“Sekolah itu dekat, cuma sekitar 10 meter dari sini. Tapi karena jembatan rusak, anak-anak harus muter jauh. Kadang mereka tetap nekat lewat sini karena waktu tidak cukup,” ujar seorang warga.
Bagi para pelajar, jembatan ini bukan hanya jalur penghubung. Ia menjadi simbol perjuangan meraih cita-cita. Setiap langkah yang mereka ambil di atas besi rapuh adalah taruhan hidup, sekaligus bukti semangat menuntut ilmu yang tidak pernah padam.
Harapan Besar
Masyarakat Pematang Sawa kini menaruh harapan besar pada pemerintah. Seruan mereka ditujukan langsung kepada Gubernur Lampung, Rahmat Mirjani, serta Bupati Tanggamus, H. Muhammad Saleh Asnawi.
“Jangan biarkan anak-anak mempertaruhkan nyawa hanya untuk menuntut ilmu. Jembatan ini harus segera dibangun kembali,” tegas warga.
Bagi warga pelosok, jembatan bukan hanya sarana transportasi. Lebih dari itu, jembatan adalah penghubung harapan, pendidikan, dan masa depan. (Rusdi Senapal)







