Kotaagung (Lampost.co) — Hujan deras sejak Rabu pagi, 3 Desember 2025, memicu jebolnya talut Sungai Way Tuba di Kotaagung. Akibatnya, air sungai kemudian meluap ke permukiman warga di Pedukuhan Kapuran, Kelurahan Pasar Madang, Kecamatan Kotaagung.
Poin Penting:
-
Talut Way Tuba jebol setelah hujan sejak pagi yang mengakibatkan banjir melanda tujuh RT di Kapuran dan Pantai Laut.
-
Ketinggian air mencapai 80 sentimeter.
-
Warga menuntut perbaikan dan normalisasi sungai.
Banjir meredam sedikitnya tujuh RT, yakni RT 10, RT 14, RT 16, RT 17 Lebak Jaya, dan Pantai Laut RT 08 serta RT 09. Ketinggian air berkisar 40 hingga 80 sentimeter.
Banjir menutup akses jalan dan merendam rumah warga. Akibatnya, sejumlah perabotan rumah tangga rusak terendam air. Ada juga sejumlah sepeda motor yang ikut terseret arus.
Baca juga: Banjir Setinggi Satu Meter Rendam Dusun Kapuran, Kotaagung
Warga menyelamatkan anak-anak dan lansia lebih dulu. Pemuda setempat mengangkat barang berharga ke tempat tinggi.
Talut Rapuh
Roni, tokoh pemuda Kapuran, menyebut talut yang sudah berdiri sejak 2001 rapuh sebagai penyebab utama. Usia bangunan juga memperparah dampak hujan. “Talut sudah lama rusak,” kata Roni, Kamis, 4 Desember 2025.
Ia mengaku sudah menyampaikan laporan kepada pemerintah, namun belum ada tanggapan. Dia pun menyayangkan lambannya respons instansi terkait terhadap kondisi talut yang sudah rapuh tersebut. “Padahal, hujannya tidak ekstrem,” ujar Roni.
Minta Perbaikan Talut segera
Roni khawatir bencana lebih besar datang saat hujan lebat berikutnya. Untuk itu, dia meminta agar pihak terkait segera melakukan perbaikan talut tersebut.
Keluhan serupa juga datang dari Sunari, warga Kapuran. Banjir yang melanda wilayahnya karena jebolnya talut sungai yang ada di desanya. “Air datang cepat setelah talut runtuh,” kata Sunari.
Dia berharap pemerintah segera memperbaiki talut secara menyeluruh. Selain itu, perlu juga untuk mengeruk dasar sungai.
“Normalisasi sungai harus segera untuk mencegah banjir berulang. Jangan sampai kejadian terus terulang setiap hujan turun,” katanya.
Warga juga menuntut audit konstruksi talut. Sebab, mereka menduga kualitas bangunan tidak sesuai standar.
Banjir Lebih Parah
Warga menilai banjir kali ini paling parah tahun ini karena genangan bertahan berjam-jam hingga malam. Beberapa keluarga mengungsi ke rumah kerabat dan sebagian memilih bertahan di rumah.
Warga mengaku belum menerima bantuan darurat dan hanya mengandalkan swadaya dan solidaritas kampung. Tokoh warga meminta pemerintah turun langsung ke lokasi.
Pemuda setempat membuat pembatas darurat dari karung pasir agar arus air tidak langsung masuk rumah. Warga juga meminta rambu peringatan di dekat talut.








