Bandar Lampung (Lampost.co) — Pekan pertama Maret 2026 menjadi periode tersulit bagi OpenAI sejak krisis kepemimpinan tahun 2023. Perusahaan pelopor kecerdasan buatan ini kini menghadapi “eksodus” pengguna. Hal ini terjadi setelah secara resmi mengumumkan kerja sama strategis dengan Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon). Langkah ini memicu kampanye global bertajuk #QuitGPT. Kampanye itu telah diikuti oleh jutaan orang hanya dalam hitungan hari.
Isu ini bermula ketika OpenAI menghapus aturan internal yang melarang penggunaan teknologi mereka untuk keperluan “militer dan peperangan”. Selain itu, keputusan ini menyusul runtuhnya negosiasi antara Pentagon dengan Anthropic, rival utama OpenAI. Anthropic menolak melonggarkan batasan etika pada model AI Claude milik mereka.
Eksodus Pengguna dan Protes Karyawan
Berdasarkan data pelacak boikot digital per 4 Maret 2026, lebih dari 2,5 juta pengguna dilaporkan telah menghapus akun ChatGPT mereka sebagai bentuk protes. Lonjakan penghapusan aplikasi mencapai angka fantastis yakni 295 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Masyarakat menuduh OpenAI telah “menjual jiwa etika”. Mereka menilai hal ini demi kontrak pertahanan bernilai miliaran dolar.
Tekanan tidak hanya datang dari luar. Di dalam internal perusahaan, gejolak pun memanas. Hampir 100 karyawan OpenAI bergabung dengan 700 staf Google. Mereka menulis sebuah surat terbuka yang menuntut para pemimpin teknologi untuk menolak permintaan militer terkait pengawasan massal dan pengembangan senjata otonom.
Klarifikasi Sam Altman: Pengakuan atas Kesalahan Komunikasi
Menanggapi badai kritik tersebut, CEO OpenAI Sam Altman akhirnya memberikan pernyataan melalui platform X dan memo internal pada Selasa malam. Altman mengakui bahwa pengumuman kontrak tersebut dilakukan secara terburu-buru dan terkesan “oportunistik serta ceroboh”.
Altman menegaskan bahwa OpenAI sedang mengamandemen poin-poin kontrak dengan Pentagon untuk menjamin beberapa batasan ketat, di antaranya:
- Larangan Pengawasan Massal: AI milik OpenAI secara hukum dilarang digunakan untuk memata-matai warga sipil Amerika Serikat.
- Kontrol Manusia (Human in the Loop): Teknologi ini tidak akan digunakan untuk mengarahkan sistem senjata otonom tanpa kendali langsung dari manusia.
- Batas Operasional: Kerja sama ini diklaim hanya berfokus pada keamanan siber, analisis logistik, dan misi penyelamatan, bukan untuk serangan fisik langsung di medan tempur.
Namun, dalam pertemuan tertutup dengan staf, Altman juga memberikan pernyataan yang memicu perdebatan baru. Ia menyebutkan bahwa secara praktis, OpenAI tidak bisa mendikte setiap keputusan operasional pemerintah. Hal ini terjadi setelah teknologi tersebut diserahkan ke jaringan rahasia militer.
Persaingan Etika di Tahun 2026
Krisis ini juga menonjolkan posisi Anthropic yang justru mendapatkan simpati publik. Setelah dilarang oleh pemerintah karena menolak permintaan militer, penggunaan aplikasi Claude milik Anthropic justru melonjak drastis. Akibatnya, aplikasi itu menduduki posisi puncak di App Store pada awal Maret 2026.
Analis industri menilai bahwa peristiwa ini mencerminkan pergeseran besar dalam lanskap AI global tahun 2026. Perusahaan kini tidak hanya dinilai berdasarkan kecanggihan model bahasanya. Mereka juga dinilai pada keberanian mereka untuk menjaga garis merah etika di hadapan kepentingan keamanan nasional yang agresif.
OpenAI kini berpacu dengan waktu untuk memulihkan kepercayaan publik sebelum peluncuran besar GPT-5 yang dijadwalkan pada pertengahan tahun ini. Apakah amandemen kontrak dengan Pentagon cukup untuk meredam boikot, ataukah ini awal dari runtuhnya dominasi OpenAI di pasar konsumen?








