TOKYO (Lampost.co) – Lantai bursa Tokyo (Tokyo Stock Exchange) dilanda “badai merah” pada pekan pertama Februari 2026. Deretan raksasa industri hiburan Jepang, mulai dari Nintendo, Sony Interactive, hingga Capcom, mencatatkan koreksi tajam. Hal ini membuat para investor mulai mempertanyakan masa depan industri game konvensional di tengah gempuran teknologi kecerdasan buatan (AI).
Penurunan paling drastis dialami oleh Nintendo Co. yang sahamnya anjlok hingga 11 persen pada penutupan perdagangan Rabu, 4 Februari 2026. Pelemahan ini terjadi di tengah dinamika pasar yang kontradiktif. Di satu sisi konsol Nintendo Switch 2 telah mencatatkan total penjualan global mencapai 17,37 juta unit sejak peluncurannya Juni tahun lalu. Namun di sisi lain, pertumbuhan di pasar Barat dilaporkan melambat dari ekspektasi awal.
Disrupsi Project Genie dan Ancaman Eksistensial AI
Sentimen negatif pasar dipicu secara masif oleh peluncuran Project Genie oleh Google DeepMind pada akhir Januari 2026. Platform AI generatif ini mampu menciptakan lingkungan 3D dan mekanik permainan secara instan hanya melalui perintah teks atau gambar. Selain itu, analis melihat langkah Google ini sebagai ancaman serius bagi model bisnis developer tradisional. Model tradisional memerlukan waktu bertahun-tahun dan biaya jutaan dolar untuk memproduksi satu judul game AAA.
Investor khawatir bahwa ketergantungan perusahaan Jepang pada siklus pengembangan yang panjang akan membuat mereka tertinggal. Saham Capcom dan Square Enix turut terseret turun masing-masing 7,1 persen dan 5,2 persen. Hal ini mencerminkan ketakutan pasar terhadap potensi banjirnya konten game murah berbasis AI yang dapat mendegradasi nilai karya premium.
Dilema Switch 2 dan Margin Keuntungan yang Terjepit
Selain faktor AI, penurunan saham Nintendo dipengaruhi oleh sikap manajemen yang cenderung konservatif dalam laporan keuangan Februari 2026. Meski Switch 2 menjadi konsol dengan peluncuran tercepat dalam sejarah perusahaan, Presiden Shuntaro Furukawa mengakui adanya tekanan di pasar luar negeri. Sebagai hasilnya, pasar menangkap hal ini sebagai sinyal bahwa momentum perangkat keras mulai menemui titik jenuh lebih cepat dari prediksi.
Faktor eksternal lain yang memperkeruh suasana adalah kebijakan tarif impor baru dari Amerika Serikat. Sejak 15 Januari 2026, pemerintahan AS resmi memberlakukan tarif tambahan 25 persen untuk impor chip komputasi canggih. Kenaikan biaya komponen ini mulai menekan margin keuntungan perusahaan game Jepang. Hal ini terjadi karena jalur logistiknya masih sangat bergantung pada manufaktur di Asia Timur.
Optimisme di Balik Koreksi: Peluang Serok?
Meskipun kondisi pasar sedang tertekan, sejumlah analis melihat fenomena ini sebagai koreksi teknis sebelum lompatan besar berikutnya. Beberapa poin yang patut investor cermati antara lain:
1. Rilis Game Besar: Sisa bulan Februari 2026 akan dihiasi peluncuran judul papan atas seperti Mario Tennis Fever (12 Februari) dan Resident Evil Requiem. Launching ini mungkin akan mendongkrak pendapatan kuartalan.
2. Ekosistem Langganan: Pertumbuhan layanan seperti Nintendo Switch Online dan PlayStation Plus meningkat signifikan di awal tahun 2026. Hal ini memberikan arus kas yang lebih stabil ketimbang penjualan fisik.
3. Dominasi Pasar: Jepang tetap menjadi pasar game dengan rata-rata pengeluaran pemain (ARPU) yang sangat tinggi. Fakta tersebut memberikan bantalan ekonomi bagi perusahaan domestik di tengah fluktuasi nilai tukar Yen yang masih berada di kisaran 155 per Dolar AS.
Kesimpulan Strategis
Industri game Jepang saat ini sedang berada di persimpangan jalan. Tekanan saham yang terjadi bukanlah tanda berakhirnya era konsol. Namun, hal tersebut merupakan fase transisi menuju integrasi teknologi AI dan adaptasi terhadap dinamika geopolitik global. Bagi investor dengan profil risiko jangka panjang, koreksi di awal 2026 ini mungkin merupakan kesempatan. Mereka bisa masuk kembali ke saham-saham blue-chip hiburan dengan harga yang lebih rasional.








