Bandar Lampung (Lampost.co) — Polisi terus memburu tiga anggota komplotan bajing loncat yang selama ini beraksi di kawasan Panjang, Bandar Lampung. Sebelumnya, aparat lebih dulu menangkap seorang pelaku berinisial IP, 22 tahun, warga Panjang.
Poin Penting:
Tiga anggota komplotan masih dalam pengejaran.
Komplotan bekerja dengan pembagian tugas terorganisasi.
Polisi menduga ada jaringan penadah barang curian.
Penangkapan berlangsung setelah video aksi pencurian pupuk viral di media sosial. Rekaman itu memperlihatkan aksi nekat pelaku saat memanjat truk yang sedang melaju.
Kasus ini kembali menyoroti tingginya kerawanan jalur distribusi logistik di Bandar Lampung. Kawasan Panjang selama ini menjadi jalur utama kendaraan pengangkut barang menuju pelabuhan.
Baca juga: Inilah Alasan Pelaku Bajing Loncat Lakukan Aksi
Kapolsek Panjang AKP Ipran mengatakan polisi bergerak cepat setelah video amatir aksi pencurian beredar luas di internet. “Begitu video viral, anggota langsung melakukan penyelidikan hingga berhasil mengidentifikasi komplotan tersebut,” ujar Ipran, Kamis, 29 Mei 2026.
Menurut dia, polisi juga telah mengantongi identitas seluruh anggota komplotan tersebut. Aparat kini fokus mengejar tiga anggota komplotan pelaku lain yang masih buron.
Polisi menangkap IP pada 21 Mei 2026. Dari hasil pemeriksaan, komplotan itu menjalankan aksi secara terorganisasi.
Mereka membagi tugas agar pencurian berlangsung cepat dan sulit terdeteksi. IP bertindak sebagai eksekutor utama di lapangan.
Ia mengejar truk bermuatan pupuk di Jalan Teluk Ambon, Kelurahan Pidada. Setelah mendekati kendaraan, pelaku berpegangan pada terpal truk.
Pelaku lalu memanjat bak kendaraan yang masih berjalan. Ia kemudian merobek penutup muatan dan melempar karung pupuk ke jalan.
Sementara itu, tiga rekannya menunggu di bawah. Mereka bertugas mengambil pupuk yang jatuh lalu membawanya kabur. “Pelaku lain bertugas memungut karung pupuk yang dijatuhkan untuk segera diamankan,” kata Ipran.
Polisi menduga komplotan tersebut sudah beberapa kali beraksi di jalur yang sama. Kawasan distribusi barang memang sering menjadi target kejahatan jalanan.
Pelaku biasanya memanfaatkan kendaraan yang melambat akibat kepadatan lalu lintas. Kondisi itu memberi kesempatan bagi pelaku untuk naik ke bak truk.
Pengamat keamanan menilai aksi bajing loncat berkembang karena lemahnya pengawasan di jalur logistik. Selain itu, keberadaan penadah membuat barang curian mudah dijual.
Bawa 5 Karung
Dalam aksi terakhirnya, komplotan tersebut membawa lima karung pupuk. Namun, polisi menyita tiga karung sebelum pelaku menjual seluruh hasil curian.
Dua karung lainnya sudah lebih dulu mereka jual kepada penadah. Pelaku menjual pupuk dengan harga jauh di bawah pasaran. “Satu karung pupuk mereka jual Rp125 ribu, lalu membagi rata hasilnya,” ujar Ipran.
Padahal, harga normal pupuk tersebut jauh lebih tinggi. Selisih harga itu membuat barang curian cepat terserap pasar ilegal.
Dari catatan kepolisian, korban mengalami kerugian sekitar Rp4,5 juta akibat aksi terakhir komplotan tersebut. Namun, total kerugian kemungkinan lebih besar.
Polisi kini mendalami kemungkinan keterlibatan jaringan penadah. Penyidik menilai rantai distribusi barang curian menjadi faktor penting maraknya pencurian logistik.
Kasus ini juga menjadi peringatan bagi perusahaan angkutan barang. Pengusaha logistik perlu memperkuat sistem keamanan kendaraan.
Penggunaan kamera pengawas dan pelacakan digital dapat membantu mencegah pencurian muatan. Sopir truk juga perlu meningkatkan kewaspadaan di jalur rawan.
Keberhasilan polisi menangkap satu pelaku mendapat apresiasi masyarakat. Namun, warga berharap aparat segera membekuk seluruh anggota komplotan agar aksi serupa tidak kembali terjadi.









