Bandar Lampung (Lampost.co) — Raksasa teknologi asal Tiongkok, ByteDance, secara resmi memperkenalkan model kecerdasan buatan (AI) terbarunya, Doubao 2.0, pada akhir pekan lalu. Peluncuran ini menandai pergeseran besar dari sekadar chatbot konvensional menuju Era Agen (Agent Era). Kini AI mampu mengeksekusi tugas-tugas kompleks di dunia nyata secara mandiri.
Dirilis tepat menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2026, Doubao 2.0 hadir dengan serangkaian peningkatan signifikan. ByteDance mengeklaim bahwa varian tertinggi mereka, Doubao 2.0 Pro, memiliki kemampuan penalaran mendalam dan eksekusi tugas multi-langkah. Kemampuan ini mampu menandingi model global seperti GPT-5.2 dari OpenAI dan Gemini 3 Pro milik Google.
Fokus pada Kemampuan Otonom dan Efisiensi Biaya
Berbeda dengan generasi sebelumnya yang lebih fokus pada tanya-jawab teks, Doubao 2.0 dirancang untuk memahami alur kerja (workflow) yang rumit. Model ini mampu melakukan tugas seperti membangun aplikasi kecil dari awal, mengelola jadwal perjalanan yang detail, hingga melakukan analisis data real-time dengan tingkat konsistensi yang lebih tinggi.
Salah satu poin krusial yang diunggulkan adalah efisiensi biaya. ByteDance menyatakan bahwa Doubao 2.0 mampu mengurangi biaya penggunaan token hingga sepuluh kali lipat dibandingkan kompetitor di kelasnya. Keunggulan biaya ini dinilai sangat penting bagi pengembang dan perusahaan yang memerlukan inferensi skala besar untuk tugas-tugas agenik yang menghabiskan banyak sumber daya data.
Ekosistem Multimodal dan Integrasi Video
Peluncuran Doubao 2.0 juga dibarengi dengan integrasi teknologi video generatif terbaru melalui model Seedance 2.0. Teknologi ini memungkinkan pengguna aplikasi Doubao untuk menciptakan konten video realistis berdurasi 4 hingga 15 detik dengan pemahaman hukum fisik dan konsistensi visual yang lebih baik.
Selain model Pro, ByteDance juga menyediakan varian Lite untuk keseimbangan performa dan kecepatan, serta varian Mini untuk aplikasi dengan latensi rendah. Bagi para pengembang, tersedia pula Doubao-Seed-2.0-Code yang dioptimalkan khusus untuk tugas pemrograman berat.
Dominasi Pasar dan Ekspansi Perangkat Keras
Hingga akhir tahun 2025, Doubao tercatat memimpin pasar AI di Tiongkok dengan 155 juta pengguna aktif mingguan. Kehadiran versi 2.0 ini diprediksi akan semakin memperkokoh posisi ByteDance dari kejaran kompetitor domestik seperti DeepSeek dan Qwen milik Alibaba.
Tak hanya di sisi perangkat lunak, ByteDance juga dikabarkan tengah menyiapkan peluncuran ponsel AI generasi kedua. AI ini hasil kolaborasi dengan ZTE (Nubia) pada kuartal kedua 2026. Perangkat ini diproyeksikan akan menjadikan Doubao sebagai sistem operasi lapisan dasar. Ia mampu mengontrol aplikasi pihak ketiga secara otonom melalui perintah suara.








