Bandar Lampung (Lampost.co) — Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan bahwa penerima manfaat utama prioritas Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Bukan semata peserta didik, melainkan kelompok rentan yang dikenal sebagai 3B, yakni balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.
Wakil Kepala BGN, Sony Sonjaya, menyampaikan bahwa masih banyak pihak keliru memahami sasaran program tersebut.
Ia menekankan bahwa mitra harus lebih dahulu mendata dan melayani kelompok 3B saat membangun dapur MBG, bukan langsung menyasar sekolah.
Baca juga : BGN Telah Menyalurkan 1,65 Miliar Porsi MBG Kepada Penerima Manfaat
“Yang utama harus dicari sebagai penerima manfaat adalah balita, ibu hamil, dan ibu menyusui,” ujar Sony dalam rapat konsolidasi Program MBG Provinsi Lampung.
Sony menjelaskan bahwa meskipun 77 negara telah menjalankan program makan sekolah, Indonesia menerapkan pendekatan yang lebih komprehensif.
Program MBG tidak hanya menyediakan makanan bagi pelajar, tetapi juga memberi perhatian khusus kepada kelompok rentan hingga masa kehamilan.
Ia menyebut Indonesia menjadi satu-satunya negara yang menjalankan program makan bergizi dengan sistem pengantaran langsung ke rumah bagi ibu hamil dan ibu menyusui melalui kader puskesmas.
Skema tersebut menjadi keunggulan yang tidak dimiliki negara lain.
“Di Indonesia, petugas bisa mengantar makanan untuk ibu hamil dan menyusui ke rumah. Ini bentuk keberpihakan nyata kepada kelompok rentan,” katanya.
Sony mengingatkan seluruh mitra pelaksana agar menyamakan pola pikir.
Kualitas Gizi
Pemerintah memfokuskan program MBG pada kualitas gizi selama 1.000 hari pertama kehidupan, periode emas yang sangat menentukan tumbuh kembang anak sejak dalam kandungan.
“Pemerintah sudah memberi perhatian sejak janin masih dalam kandungan. Jadi kita harus mengutamakan 3B, baru kemudian peserta didik,” tegasnya.
Ia juga meluruskan persepsi publik yang menganggap MBG sekadar program makan siang sekolah.
Pemerintah merancang program tersebut sebagai strategi jangka panjang untuk menyiapkan generasi Indonesia menuju 2045.
“Program ini bukan sekadar memberi makan, tetapi merencanakan masa depan bangsa. Kita menyiapkan generasi 2045 mulai sekarang dengan memastikan kelompok rentan memperoleh asupan gizi yang baik,” pungkasnya.








