Jakarta (Lampost.co) – Kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran membawa dampak besar bagi geopolitik dan ekonomi global. Salah satu poin penting dalam kesepakatan itu adalah keputusan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz selama dua minggu.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menyatakan langkah itu menjadi bagian dari komitmen negaranya dalam meredakan ketegangan dengan Amerika Serikat.
Araqchi menegaskan Iran siap menghentikan seluruh operasi militernya jika pihak lawan juga melakukan hal yang sama. Ia menyebut koordinasi langsung dengan angkatan bersenjata Iran.
“Selama dua minggu, pelayaran aman melalui Selat Hormuz melalui koordinasi dengan Angkatan Bersenjata Iran,” ujarnya.
Ia juga menambahkan penghentian operasi militer bersifat timbal balik. “Jika serangan terhadap Iran berhenti, Angkatan Bersenjata kami yang perkasa akan menghentikan operasi pertahanan mereka,” lanjutnya.
Dampak Langsung: Harga Minyak Dunia Terjun Bebas
Keputusan membuka Selat Hormuz langsung memicu reaksi pasar global. Jalur itu sebagai salah satu rute utama distribusi minyak dunia.
Setelah pengumuman gencatan senjata, harga minyak dunia turun lebih dari 17 persen. Penurunan itu menunjukkan pasar merespons positif stabilitas di kawasan Timur Tengah.
Selain itu, bursa saham di Asia juga mencatat penguatan pada awal perdagangan. Investor melihat peluang pemulihan ekonomi di tengah meredanya konflik.
AS dan Iran Sama-sama Klaim Kemenangan
Meski sepakat menghentikan konflik sementara, kedua negara tetap mengklaim kemenangan. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyebut kesepakatan itu sebagai hasil besar bagi negaranya.
Dalam pernyataannya, Trump menegaskan Iran harus membuka Selat Hormuz sebagai syarat utama penghentian serangan.
“Dengan syarat Republik Islam Iran menyetujui pembukaan penuh, segera, dan aman Selat Hormuz, saya setuju untuk menangguhkan serangan selama dua minggu,” tulisnya di Truth Social.
Di sisi lain, Iran juga menyampaikan narasi kemenangan. Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menyebut pihaknya memberikan pukulan besar kepada lawan.
“Musuh menderita kekalahan yang tidak terbantahkan,” bunyi pernyataan resmi mereka.
Pakistan dan China Berperan di Balik Layar
Kesepakatan itu tidak terjadi begitu saja. Shehbaz Sharif berperan sebagai mediator dalam proses negosiasi. Pembicaraan lanjutan rencananya berlangsung pada 10 April 2026 di Pakistan. Kedua pihak akan membahas solusi jangka panjang atas konflik.
Trump juga menyebut adanya pengaruh China dalam mendorong Iran menuju meja perundingan. Hal itu menunjukkan kuatnya peran global dalam konflik tersebut.
Kesepakatan dua minggu itu menjadi momentum penting, tetapi belum menjamin perdamaian permanen. Banyak isu krusial masih harus selesai, termasuk program nuklir dan sanksi ekonomi.
Jika negosiasi berjalan lancar, kawasan Timur Tengah berpotensi memasuki fase stabil. Namun jika gagal, konflik bisa kembali memanas dalam waktu singkat.








