Jakarta (Lampost.co) — Isu pemutusan hubungan kerja (PHK) kini bukan lagi sekadar spekulasi. Tanda-tanda awal mulai terlihat di sejumlah perusahaan di Indonesia.
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, mengungkap fakta tersebut kepada publik. Ia menyebut beberapa perusahaan mulai membahas efisiensi tenaga kerja. Kondisi itu muncul akibat tekanan ekonomi global yang semakin berat.
Said Iqbal menilai dampak konflik global menjalar ke sektor industri dalam negeri. Kenaikan harga bahan bakar menjadi salah satu pemicu utama. “Stop ancaman PHK akibat perang. Dampaknya terasa ke mana-mana,” ujarnya dalam konferensi pers.
Ia menambahkan, industri yang tidak mendapat subsidi paling merasakan tekanan. Biaya produksi meningkat dan memaksa perusahaan mencari cara bertahan.
10 Perusahaan Bahas Efisiensi Karyawan
KSPI mencatat setidaknya 10 perusahaan mulai membicarakan langkah efisiensi. Perusahaan tersebut berada di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan sebagian Jawa Timur.
Informasi itu bukan sekadar isu karena perusahaan mulai mengajak pekerja berdialog terkait pengurangan tenaga kerja. Namun, ia memilih tidak membuka identitas perusahaan karena proses masih berlangsung. “Mulai mengajak berunding untuk melakukan rasionalisasi karyawan,” tegasnya.
Potensi PHK Terjadi dalam 3 Bulan
KSPI melihat kondisi itu sebagai peringatan dini. Dalam tiga bulan ke depan, potensi PHK bisa menjadi kenyataan. “Ada 10 perusahaan yang menyampaikan potensi PHK dalam waktu dekat,” ujar Said.
Ia mengingatkan semua pihak agar tidak mengabaikan sinyal tersebut. Jika tidak ditangani, dampaknya bisa meluas ke sektor lain.
KSPI Desak Pemerintah Bertindak Cepat
KSPI meminta pemerintah segera mengambil langkah konkret. Said Iqbal menilai respons cepat bisa mencegah gelombang PHK.
Ia kembali mengusulkan pembentukan satuan tugas khusus untuk menangani potensi PHK. Usulan itu sebelumnya disampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto. “Untuk itu, ancaman PHK harus pemerintah sorot secara serius,” ujarnya.
Tekanan Impor Tambah Risiko Industri
Selain dampak perang global, tekanan dari produk impor juga menjadi faktor tambahan. Produk luar negeri yang lebih murah membuat industri lokal semakin tertekan.
Kondisi itu mempersempit ruang gerak perusahaan dalam mempertahankan tenaga kerja.
Meski situasi terlihat mengkhawatirkan, KSPI tetap berharap skenario terburuk tidak terjadi. Dia menegaskan langkah pencegahan masih bisa dilakukan jika semua pihak bergerak cepat. “Ya mudah-mudahan tidak terjadi PHK,” katanya.









