Bandar Lampung (lampost.co)–Provinsi Lampung mencatatkan pencapaian luar biasa dalam peta transisi energi nasional. Hingga awal tahun 2026, penggunaan energi hijau atau Energi Baru Terbarukan (EBT) di Bumi Ruwa Jurai telah menyentuh angka 36 persen. Realisasi ini menempatkan Lampung sebagai salah satu provinsi dengan bauran energi bersih tertinggi, melampaui rata-rata nasional yang saat ini tertahan di angka 14 hingga 18 persen.
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Lampung, Febrizal Levi, menegaskan bahwa pencapaian ini merupakan hasil dari konsistensi daerah dalam mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan. “Provinsi Lampung berhasil melampaui target nasional di sektor energi bersih. Ini adalah modal kuat bagi ketahanan energi daerah,” ungkap Febrizal di Bandar Lampung, akhir pekan lalu.
Keberhasilan saat ini tidak membuat pemerintah daerah berpuas diri. Pemprov Lampung telah menyusun peta jalan (roadmap) energi hingga tahun 2032 dengan target bauran EBT mencapai 40 persen. Untuk mencapai angka tersebut, kapasitas pembangkit listrik di Lampung diproyeksikan naik menjadi 1.600 Megawatt.
Fokus pengembangan pada maksimalisasi potensi panas bumi (geothermal) yang melimpah di wilayah pegunungan. Meliputi Gunung Rajabasa, Way Ratai, Danau Ranau, dan Sekincau. Selain itu, pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung di Bendungan Margatiga juga proyek strategis yang akan digenjot.
Minat Investasi
Meski memiliki total potensi EBT mencapai 153,39 Gigawatt—yang mencakup tenaga surya (121,48 GW), arus laut (26,53 GW), hingga angin (3,51 GW)—eksekusi di lapangan sangat bergantung pada ekosistem investasi. Febrizal Levi menggarisbawahi pentingnya peran PLN sebagai pembeli tunggal (offtaker) untuk menciptakan iklim bisnis yang sehat.
“Kami sangat berharap PLN dapat memberikan skema harga yang kompetitif bagi para pengembang. Investasi di sektor energi terbarukan sangat sensitif terhadap kepastian dan kelayakan harga beli. Jika skema harganya menarik, investor akan berbondong-bondong masuk ke Lampung untuk menggarap potensi energi bersih yang sangat besar ini,” tuturnya.
Dengan cadangan energi dari arus laut, biomassa, hingga biogas yang masih sangat luas, Lampung optimis dapat menjadi tulang punggung pemenuhan target Net Zero Emission Indonesia di masa depan. Stabilitas politik dan dukungan regulasi daerah kini menjadi kunci terakhir untuk mengubah potensi Gigawatt tersebut menjadi energi nyata bagi industri dan masyarakat. (ANT)








