Bandar Lampung (lampost.co)–Bandar Pemerintah Provinsi Lampung memproyeksikan pembukaan rute internasional Lampung–Kuala Lumpur sebagai akselerator untuk mewujudkan status Embarkasi Haji Penuh. Pengoperasian kembali Bandara Radin Inten II sebagai bandara internasional dinilai sebagai langkah konkret dalam memangkas birokrasi perjalanan udara bagi masyarakat Bumi Ruwa Jurai.
Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Lampung, Bambang Sumbogo, menegaskan bahwa pencapaian ini merupakan bagian dari strategi besar untuk mengoptimalkan potensi penduduk Lampung yang mencapai 9,5 juta jiwa—terbesar kedua di Pulau Sumatera.
“Lampung memiliki modal transportasi yang sangat lengkap dan terintegrasi. Status internasional ini akan memperkuat pergerakan orang dan barang lintas negara secara langsung dari gerbang Sumatera,” ujar Bambang, Jumat, 13 Februari 2026.
Salah satu poin krusial dari kembalinya status internasional ini adalah peluang efisiensi bagi jemaah haji dan umrah. Dengan kuota haji Lampung sebanyak 5.827 orang dan rata-rata 24 ribu jemaah umrah per tahun, kehadiran rute internasional menjadi kebutuhan mendesak.
“Berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 37 Tahun 2025, status internasional kita telah kembali. Target besarnya adalah mewujudkan Embarkasi Haji Penuh serta penerbangan umrah langsung ke Madinah tanpa transit. Ini akan menekan biaya dan waktu perjalanan masyarakat secara signifikan,” jelas Bambang.
Efisiensi bagi 8.600 Pekerja Migran
Selain sektor religi, rute ini menjadi solusi bagi sekitar 8.600 pekerja migran asal Lampung di Malaysia yang selama ini terpaksa transit melalui Jakarta atau Palembang. Efisiensi ini meningkatkan sisa pendapatan pekerja migran untuk pulang ke daerah.
Layanan reguler rute Lampung–Kuala Lumpur beroperasi dua kali sepekan, yakni setiap Senin dan Kamis. Bambang optimistis layanan ini sudah berjalan optimal sebelum musim Lebaran mendatang.
Sebagai bagian dari penguatan kerja sama, rombongan perdana yang terdiri dari 130 perwakilan lintas sektor juga menjajaki kolaborasi pariwisata di Malaysia. Bambang menilai kedekatan historis dan emosional antara Lampung dan Malaysia yang sama-sama berakar dari budaya Melayu merupakan modal sosial yang kuat.
“Ini adalah langkah awal. Kami berharap konektivitas ini berkembang pesat dan memberi dampak nyata pada pertumbuhan ekonomi serta posisi tawar Lampung di level internasional,” pungkasnya.








