Bandar Lampung (Lampost.co) — Ekonom Universitas Lampung, Dr. Tiara Nirmala, menilai dominasi Pertamina dalam pasar bahan bakar minyak (BBM) nasional memiliki fungsi strategis dalam menjaga stabilitas harga dan pemerataan energi. Ia menegaskan, posisi Pertamina yang kuat tidak serta merta mencerminkan ketidakefisienan pasar.
“Kalau struktur pasar hanya monopoli, cuma satu penjual, dia jadi price maker. Tapi dalam konteks energi, monopoli Pertamina justru punya peran strategis menjaga stabilitas harga dan pemerataan pasokan hingga pelosok negeri,” ujar Tiara di Bandar Lampung, Kamis, 23 Oktober 2025.
Menurutnya, kelangkaan BBM yang terjadi di sejumlah SPBU swasta tidak bisa dijadikan cermin kondisi energi nasional. Pasalnya, porsi pasokan BBM oleh swasta masih relatif kecil dibandingkan jaringan distribusi yang dikelola Pertamina.
“Pertamina menguasai ribuan titik distribusi di seluruh provinsi dan menjadi penjamin utama stabilitas bahan bakar nasional,” kata dia.
Tiara juga mendorong agar SPBU swasta tidak hanya fokus berebut pangsa pasar di wilayah perkotaan, tetapi ikut membangun jaringan layanan di daerah-daerah yang belum terjangkau. Dengan begitu, pemerataan energi dapat terwujud lebih merata di seluruh wilayah.
Selain itu, ia menjelaskan kebijakan pembatasan impor BBM yang diterapkan pemerintah memiliki dasar ekonomi yang kuat. Jika impor dilakukan secara berlebihan, hal itu justru berisiko terhadap stabilitas nilai tukar rupiah dan neraca perdagangan nasional.
“Kalau impor meningkat, neraca perdagangan bisa terganggu. Karena transaksi luar negeri dilakukan dengan dolar, bukan rupiah. Jadi makin banyak impor, makin besar kebutuhan dolar. Akibatnya, nilai dolar naik dan rupiah terdepresiasi,” jelasnya.
Ia menambahkan, pengendalian impor penting untuk menjaga keseimbangan ekonomi nasional di tengah fluktuasi harga minyak dunia.
“Kenaikan impor bisa membuat neraca perdagangan defisit. Karena itu, kebijakan pembatasan impor BBM sangat rasional untuk melindungi perekonomian nasional,” tandasnya.








