Bandar Lampung (Lampost.co) — Industri smartphone global kembali menghadapi tantangan besar pada awal 2026. Sejumlah distributor dan vendor ponsel pintar mulai menyesuaikan harga jual, menyusul lonjakan biaya produksi akibat kelangkaan komponen semikonduktor memori, khususnya DRAM dan NAND. Kondisi ini tidak hanya dirasakan oleh merek lokal, tetapi juga pemain besar dunia.
Kelangkaan chip memori terjadi di tengah meningkatnya kebutuhan teknologi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Permintaan tinggi dari sektor data center, komputasi awan, hingga pengembangan AI generatif disebut menyerap pasokan semikonduktor secara masif, sehingga menekan ketersediaan untuk industri smartphone.
Vendor Smartphone Hadapi Tekanan Biaya Produksi
Head of PR Xiaomi Indonesia, Abee Hakim, mengakui bahwa kenaikan harga smartphone menjadi situasi yang sulit dihindari ketika pasokan komponen utama mengalami keterbatasan. Menurutnya, dinamika global tersebut berimbas langsung pada struktur biaya produksi ponsel pintar.
Meski demikian, Xiaomi menegaskan tidak ingin sekadar memindahkan beban kenaikan biaya kepada konsumen. Perusahaan berupaya menjaga keseimbangan antara harga dan nilai produk yang ditawarkan.
“Kami akan terus menghadirkan inovasi yang relevan, baik untuk anak muda maupun seluruh pengguna Xiaomi. Value yang kami tawarkan tetap menjadi prioritas,” ujar Abee, Jumat (16/1/2026).
Saat ini, Xiaomi masih mencermati pergerakan pasar dan menghitung dampak tekanan biaya terhadap kinerja penjualan. Strategi penyesuaian harga pun disusun secara hati-hati agar tidak menggerus minat beli masyarakat.
Segmen Premium Mulai Menguat
Dari sisi pasar, Xiaomi mencatat adanya sinyal positif pada segmen ponsel premium sejak akhir 2025. Minat konsumen terhadap perangkat dengan spesifikasi tinggi dan fitur inovatif dinilai semakin meningkat.
Namun, untuk 2026, perusahaan belum dapat memastikan segmen mana yang akan menjadi motor utama pertumbuhan penjualan. Fokus Xiaomi tahun ini diarahkan pada penguatan inovasi, peningkatan kualitas produk, serta penyesuaian dengan kebutuhan pengguna di Indonesia.
Optimisme Xiaomi juga ditopang oleh rekam jejak penjualan global. Hingga pertengahan Desember 2025, Redmi Note Series tercatat telah terjual lebih dari 460 juta unit di lebih dari 100 negara, menegaskan posisi Xiaomi sebagai salah satu pemain utama di industri smartphone dunia.
Samsung: Isu Global, Bukan Masalah Satu Merek
Tekanan akibat kenaikan harga semikonduktor memori juga dirasakan oleh produsen global lainnya. Samsung Electronics Indonesia menilai situasi ini sebagai persoalan struktural yang berdampak luas pada seluruh industri.
Head of MX Category Management Samsung Electronics Indonesia, Selvia Gofar, menyebut kenaikan harga chip memori sebagai fenomena global yang tidak bisa dihindari.
“Kenaikan harga semikonduktor memori merupakan isu global yang diperkirakan berdampak pada seluruh industri smartphone, tidak hanya pada Samsung,” katanya.
Namun, Samsung menilai posisinya relatif lebih kuat dari sisi rantai pasok. Kemitraan strategis jangka panjang dengan pemasok semikonduktor menjadi salah satu faktor yang membantu menjaga stabilitas pasokan di tengah fluktuasi harga.
Fokus ke Nilai dan Pengalaman Pengguna
Dalam menghadapi tekanan biaya, Samsung menegaskan bahwa strategi perusahaan tidak hanya bertumpu pada efisiensi. Pengalaman pengguna dan peningkatan nilai produk tetap menjadi prioritas utama.
Menurut Selvia, keputusan konsumen tidak semata-mata ditentukan oleh harga, tetapi juga oleh inovasi, kualitas, dan manfaat jangka panjang dari sebuah perangkat.
“Samsung akan terus mendorong evolusi dan inovasi untuk memastikan konsumen tetap mendapatkan nilai terbaik,” ujarnya.
Tantangan 2026 bagi Industri Smartphone
Kelangkaan chip memori diperkirakan masih akan menjadi tantangan sepanjang 2026, seiring belum meredanya permintaan dari sektor AI dan teknologi digital global. Kondisi ini membuat konsumen berpotensi menghadapi harga smartphone yang lebih tinggi, terutama pada kelas menengah hingga premium.
Di sisi lain, persaingan antarvendor mendorong produsen untuk lebih kreatif dalam menawarkan nilai tambah, baik melalui fitur, ekosistem, maupun layanan purna jual. Bagi konsumen, situasi ini menjadi momentum untuk lebih selektif dalam memilih perangkat sesuai kebutuhan.








