Jakarta (Lampost.co)— CEO Tesla dan SpaceX, Elon Musk, kembali menjadi pusat perhatian. Hal ini setelah The New York Times menerbitkan laporan yang menuduhnya mengonsumsi berbagai jenis obat-obatan terlarang.
Laporan tersebut menyebut bahwa Musk menggunakan zat-zat seperti ketamin, ekstasi, hingga jamur psilocybin (jamur ajaib).
bahkan menyebutkan bahwa ia bepergian dengan membawa kotak berisi obat-obatan yang salah satunya label Adderall—obat stimulan yang biasa di gunakan untuk pengobatan ADHD.
Musk Bantah Tudingan
Musk dengan cepat membantah tudingan tersebut melalui akun pribadinya di platform X (dulu Twitter). Ia menuding bahwa laporan The New York Times tersebut tidak berdasar dan penuh kebohongan.
“Saya TIDAK mengonsumsi narkoba. The New York Times berbohong,” tulis Elon Musk tegas dalam sebuah unggahan pada Selasa (3/6/2025), seperti mengutip dari Variety.
Bantahan itu bermula dari sebuah cuitan satir yang mengunggah akun @WholeMarsBlog yang menyebut,
“Mengingat rekam jejak Elon Musk, obat apa pun yang ia konsumsi seharusnya memasukkan ke dalam air minum.” Musk meresponsnya dengan emoji tertawa sambil menangis dan emoji “??”, sebelum akhirnya mengeluarkan klarifikasi serius mengenai tuduhan yang beredar.
Elon Musk :Penggunaan Obat Bukan Rahasia
Musk mengakui bahwa ia pernah mencoba ketamin yang meresepkan beberapa tahun lalu untuk alasan medis.
Namun, ia menegaskan bahwa penggunaan tersebut bukan rahasia dan bahkan sudah pernah membicarakannya secara terbuka.
“Saya mencoba ketamin yang dapat resep beberapa tahun yang lalu dan mengungkapnya di X, jadi ini bukan berita baru. Obat itu membantu untuk keluar dari kondisi mental yang berat. Tapi saya tidak mengonsumsinya lagi sejak saat itu,” tulisnya.
Laporan kontroversial dari The New York Times itu rilis bertepatan dengan hari terakhir Musk menjabat sebagai Ketua Departemen Government Efficiency (DOGE).
Sebuah posisi penasihat kebijakan yang pemerintahan Presiden Donald Trump bentuk.
Dalam konferensi pers bersama Trump di Gedung Putih pekan lalu, penampilan Musk menjadi perbincangan publik karena matanya tampak lebam dan tingkah lakunya banyak yang menilai tidak biasa.
Hal ini kemudian memicu spekulasi bahwa ia berada di bawah pengaruh zat psikoaktif.
Ganggu Fungsi Kemih
Media tersebut bahkan mengklaim bahwa penggunaan ketamin Musk sudah sampai pada tingkat yang mengganggu fungsi kandung kemihnya.
Ini menyiratkan adanya penggunaan dalam jumlah yang sangat besar. Tak hanya itu, mereka juga menuduh Musk menerima pemberitahuan terlebih dahulu sebelum menjalani tes narkoba.
Sebuah prosedur yang dilakukan sebagai bagian dari syarat memperoleh izin keamanan sebagai kontraktor pemerintah.
Tuduhan ini memicu reaksi keras dari berbagai kalangan, mengingat posisi Musk yang sangat strategis di berbagai perusahaan teknologi tinggi dan industri pertahanan.
Sebagai pimpinan SpaceX—perusahaan yang memiliki kontrak penting dengan NASA dan Departemen Pertahanan AS. Isu kredibilitas dan kepatuhan terhadap regulasi menjadi sangat krusial.
Ini bukan kali pertama Musk disorot terkait dugaan konsumsi zat terlarang. Pada 2024 lalu, The Wall Street Journal menerbitkan laporan serupa yang menyebut bahwa miliarder eksentrik itu mengonsumsi kokain.
LSD, dan jamur ajaib dalam beberapa pesta pribadi, serta bahwa perilakunya menjadi sulit diprediksi akibat konsumsi zat-zat tersebut.








