Jakarta 9lampost.co) – Konser Hindia di Tasikmalaya terancam batal karena penolakan dari sejumlah ormas. Mereka menilai musik Hindia berbahaya. Festival Ruang Bermusik 2025 dijadwalkan berlangsung di Lanud Wiriadinata, Tasikmalaya, pada 20 Juli mendatang. Namun, kontroversi mencuat.
Poin Penting
- Ormas Tasikmalaya menolak konser Hindia dalam festival Ruang Bermusik 2025 yang akan digelar pada 20 Juli 2025.
- Penolakan terjadi karena lirik lagu Hindia yang di anggap mengandung unsur ateis, simbol dajjal, baphomet, dan jargon freemason.
- Ustaz Hilmi Afwan dari ormas Al Mumtaz menyebut konser itu mengancam akidah generasi muda dan sarat dengan nilai satanisme.
- Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Raden Dicky, membela EO dan yakin tak ada niat buruk dari penyelenggara acara.
Beberapa warga menggelar aksi protes di Tugu Asmaul Husna, Cihideung. Mereka memasang spanduk berisi penolakan terhadap Hindia. Salah satu spanduk menuliskan kalimat provokatif, “Konser bukan ancaman keimanan.” Kalimat ini memicu diskusi luas di media sosial.
baca juga : Pernikahan Selena Gomez dan Benny Blanco Dipastikan Intim Tanpa Ribet
Ormas Al Mumtaz menjadi pihak yang vokal menolak kehadiran Hindia. Mereka menilai lagunya bertentangan dengan nilai syariat Islam. Ustaz Hilmi Afwan menyebut lagu Hindia mengandung simbol dajjal, baphomet, freemason, dan ateisme. Ia menuntut pembatalan konser tersebut.
Menurutnya, lirik lagu Hindia mengarahkan generasi muda pada kekelaman. Ia menyebut musik itu sebagai pemicu krisis akidah. Ia mengutip lirik lagu “Matahari Tenggelam” yang berbunyi: “Ku doakan kita semua masuk neraka…” sebagai bukti kekhawatirannya.
Ustaz Hilmi menegaskan, Tasikmalaya tidak anti musik. Namun jika ada unsur menyimpang, maka ormas wajib bersikap tegas menolak. Ia juga menuding konser Hindia sebagai bentuk penyambutan terhadap kekuatan kegelapan. Ia menyebutnya bagian dari satanisme.
Tanggapan Wakil Wali Kota Tasikmalaya Untuk Konser Hindia
Di sisi lain, Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Raden Dicky, menanggapi secara bijak. Ia percaya pihak EO tidak memiliki niat buruk. Menurutnya, kasus ini bisa saja terpicu peristiwa serupa di Aceh. Di sana, konser Hindia batal karena tak mendapat izin MPU. Ia ingin konser tetap berjalan sesuai aturan. Ia berharap diskusi terbuka bisa jadi solusi terbaik bagi semua pihak.
Hingga saat ini, penyelenggara Ruang Bermusik 2025 belum memberikan klarifikasi resmi terkait penolakan konser Hindia di Tasikmalaya. Kontroversi ini kembali menyorot tarik-ulur antara seni musik, kebebasan berekspresi, dan norma keagamaan di ruang publik Indonesia.








