Sukadana (Lampost.co) — Pemerintah Provinsi Lampung melalui Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi (BMBK) mulai mengebut perbaikan infrastruktur jalan di Kabupaten Lampung Timur. Proyek yang dimulai pada April 2026 ini diproyeksikan menjadi kunci percepatan logistik sekaligus upaya pemerintah menyediakan akses layak bagi masyarakat di wilayah pesisir timur.
Poin Penting
- Pemerintah Provinsi Lampung (Dinas BMBK) mengebut perbaikan jalan di Lampung Timur mulai April 2026.
- Kepala Dinas BMBK, M. Taufiqullah, menegaskan pengerjaan yang tidak sesuai standar akan langsung dibongkar.
- Fokus utama pada ruas Jabung–Labuhan Maringgai untuk memangkas waktu tempuh Lampung Selatan ke Lampung Timur.
- Proyek senilai Rp40 miliar ini bertujuan menurunkan ongkos logistik hasil tani (khususnya jagung) di pesisir timur.
Kepala Dinas BMBK Provinsi Lampung, M. Taufiqullah, saat meninjau Desa Maringgai, Kecamatan Labuhan Maringgai, mengungkapkan bahwa kondisi infrastruktur di Lampung Timur secara umum sudah sangat baik dengan tingkat kemantapan mencapai 93 persen.
“Lampung Timur ini kemantapannya sudah tinggi dibandingkan kabupaten lain. Dari hasil survei kami, sebagian besar jalan sudah bagus, hanya tersisa beberapa kilometer saja yang perlu perbaikan intensif,” ujar Taufiqullah, Jumat, 10 April 2026.
Salah satu titik krusial yang ditangani tahun ini adalah ruas Jabung–Labuhan Maringgai. Perbaikan jalur ini strategis karena menghubungkan Lampung Selatan menuju Lampung Timur dengan waktu tempuh yang lebih singkat.
Sektor pertanian menjadi penerima manfaat utama dari proyek ini. Taufiqullah menyebut, kawasan sepanjang jalan tersebut didominasi oleh pertanian jagung. Dengan kondisi jalan yang mulus, biaya angkut hasil panen dipastikan akan turun signifikan.
“Tujuannya agar ongkos produksi petani bisa lebih hemat. Kelancaran jalan sangat berpengaruh pada harga jual dan kesejahteraan petani di sini,” tambahnya.
Alokasi Anggaran dan Spesifikasi Teknis
Pemerintah mengalokasikan pagu anggaran sebesar Rp40 miliar untuk perbaikan di wilayah ini. Penanganan jalan mencakup kombinasi aspal (flexible pavement) dan beton (rigid) dengan lebar badan jalan enam meter.
Taufiqullah menegaskan bahwa kualitas konstruksi menjadi harga mati. Proyek ini didesain memiliki masa pakai hingga 15 tahun melalui metode uji bahan yang ketat pada setiap tahapan.
“Setiap tahap ada uji kepadatan. Jika pondasi aspal belum memenuhi standar, pengerjaan tidak akan beralih ke tahap berikutnya. Jika ada kesalahan atau ketidaksesuaian struktur, petugas akan langsung membongkar dan memperbaikinya kembali. Kami ingin jalan ini benar-benar tahan lama,” tegas Taufiqullah.
Langkah tegas ini diambil untuk memastikan investasi infrastruktur memberikan dampak jangka panjang bagi mobilitas warga. Dengan rampungnya perbaikan ini, konektivitas di koridor timur Lampung diharapkan semakin solid, memperkuat posisi Lampung Timur sebagai lumbung pangan sekaligus pusat pertumbuhan ekonomi baru.








