Bandar Lampung (Lampost.co) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi gelombang tinggi sejumlah Perairan Lampung. Gelombang tinggi tersebut berlaku mulai 16 Februari 2026 pukul 07.00 WIB hingga 19 Februari 2026 pukul 07.00 WIB.
Hal tersebut berdasarkan analisis sinoptik BMKG Stasiun Meteorologi Kelas IV Maritim Panjang Bandar Lampung. Pola angin wilayah perairan Provinsi Lampung umumnya bergerak dari arah Barat Daya hingga Barat Laut dengan kecepatan berkisar 2–25 knot.
“Kecepatan angin tertinggi terpantau pada wilayah Perairan Barat Lampung. Kemudian Selat Sunda bagian selatan Lampung, Perairan Teluk Lampung bagian selatan dan Perairan Timur Lampung bagian selatan.” kata Prakirawan BMKG, Amalia Khoirunnisa dalam siarannya, Minggu, 15 Februari 2026.
Kemudian kondisi ini berpotensi meningkatkan tinggi gelombang beberapa wilayah perairan. Gelombang dengan ketinggian 1,25 hingga 2,5 meter berpeluang terjadi pada Perairan Teluk Lampung bagian selatan.
Kondisi ini berisiko terhadap keselamatan pelayaran. Terutama bagi perahu nelayan jika kecepatan angin mencapai 15 knot dan tinggi gelombang 1,25 meter. Kemudian kapal tongkang jika kecepatan angin mencapai 16 knot dan tinggi gelombang 1,5 meter.
Sementara itu, gelombang lebih tinggi dengan kisaran 2,5 hingga 4 meter berpotensi terjadi pada Selat Sunda bagian Lampung dan Perairan Barat Lampung.
Selanjutnya risiko keselamatan meningkat bagi perahu nelayan jika angin mencapai 15 knot dan gelombang 1,25 meter. Kemudian kapal tongkang jika angin mencapai 16 knot dan gelombang 1,5 meter. Lalu kapal ferry jika angin mencapai 21 knot dan gelombang 2,5 meter.
Kemudian BMKG mengimbau nelayan, operator kapal tongkang, dan kapal ferry. Agar meningkatkan kewaspadaan serta memperhatikan perkembangan informasi cuaca terbaru sebelum melaut. Masyarakat pesisir juga perlu berhati-hati terhadap potensi gelombang tinggi dan angin kencang selama periode tersebut.
“Peringatan ini sebagai langkah mitigasi untuk mengurangi risiko kecelakaan laut akibat cuaca ekstrem,” himbau BMKG.








