Bandar Lampung (Lampost.co) — Di tengah dominasi teknologi penyimpanan cepat, tahun 2026 justru menjadi momen kebangkitan bagi Hard Disk Drive (HDD). Platform penyimpanan mekanis ini membuktikan eksistensinya dengan menembus batasan kapasitas baru yang sebelumnya dianggap mustahil. Pada Februari 2026, sejumlah produsen besar seperti WD dan Seagate resmi mulai memasok unit hard disk berkapasitas 40TB untuk kebutuhan komersial. Selain itu, kapasitas ini juga tersedia untuk pusat data.
Loncatan kapasitas ini bukan sekadar angka. Sebaliknya, ini merupakan jawaban atas kebutuhan penyimpanan data global yang meledak akibat pertumbuhan kecerdasan buatan (AI) yang masif. Data pelatihan AI, log sistem, dan arsip digital raksasa kini memerlukan wadah yang tidak hanya besar. Selain itu, wadah tersebut juga harus efisien secara biaya.
Teknologi HAMR dan ePMR: Kunci di Balik Kapasitas 40TB
Pencapaian kapasitas 40 terabyte ini dimungkinkan berkat matangnya teknologi Heat-Assisted Magnetic Recording (HAMR). Teknologi ini menggunakan bantuan laser mikroskopis untuk memanaskan piringan magnetik secara presisi saat penulisan data dilakukan. Dengan teknik ini, kepadatan bit yang jauh lebih tinggi dapat dicapai dibandingkan teknologi konvensional.
Selain HAMR, teknologi ePMR (energy-assisted Perpendicular Magnetic Recording) generasi terbaru juga masih memegang peranan penting. Beberapa produsen memilih mengoptimalkan ePMR hingga kapasitas 40TB melalui teknik UltraSMR. Dengan demikian, mereka dapat memberikan transisi yang lebih stabil bagi pelanggan yang belum siap beralih sepenuhnya ke infrastruktur berbasis laser HAMR.
Efek Krisis NAND Flash: HDD Kembali Menjadi Primadona
Fenomena menarik terjadi di pasar penyimpanan pada tahun 2026. Harga SSD melonjak sangat tajam. Kenaikan ini dipicu kelangkaan komponen NAND Flash. Permintaan tinggi dari sektor server AI juga ikut mendorong lonjakan tersebut.
Akibatnya, selisih harga per gigabyte antara SSD dan HDD semakin lebar. Laporan industri menunjukkan harga SSD kelas perusahaan kini jauh lebih mahal. Bahkan, harganya bisa mencapai 16 kali lipat dibandingkan HDD dengan kapasitas setara.
Kondisi ini memaksa banyak perusahaan teknologi besar untuk kembali menerapkan strategi penyimpanan hibrida. Mereka menggunakan SSD hanya untuk beban kerja yang membutuhkan kecepatan ekstrem. Sementara itu, mayoritas data “dingin” atau data arsip dialihkan kembali ke hard disk berkapasitas tinggi seperti model 40TB yang baru dirilis ini.
Peningkatan Performa dengan Multi-Actuator
Salah satu keluhan utama hard disk kapasitas besar adalah kecepatan baca/tulis yang lamban. Namun, di tahun 2026, masalah ini mulai teratasi dengan adopsi luas teknologi Multi-Actuator atau Dual-Pivot. Dengan memiliki dua set lengan pembaca yang bekerja secara independen, kecepatan transfer data pada hard disk 40TB dapat meningkat hingga dua kali lipat. Dengan demikian, hard disk ini mendekati performa IOPS yang lebih seimbang untuk menangani data raksasa.
Masa Depan Menuju 100TB
Kehadiran unit 40TB di awal 2026 ini hanyalah awal dari roadmap panjang industri penyimpanan. Para pengembang teknologi penyimpanan magnetik telah memproyeksikan bahwa pada akhir dekade ini, atau sekitar tahun 2029, hard disk dengan kapasitas 100TB akan mulai diproduksi massal.
Dengan efisiensi energi yang terus ditingkatkan dan biaya operasional yang lebih rendah untuk skala besar, Hard Disk tetap menjadi tulang punggung yang tak tergantikan bagi infrastruktur internet dunia di masa depan.








