Bandar Lampung (Lampost.co) — Penguatan hilirisasi menjadi kunci untuk mendorong nilai tambah sektor pertanian sekaligus mempercepat pertumbuhan investasi Lampung pada 2026.
Poin penting :
1. Hilirisasijadi motor penggerak perkembangan sektor pertanian di Lampung.
2. Industri hilir jadi pake utama dalam kemajuan sektor pertanian.
3. Hilirisasi jadi arah kemajuan UMKM yang ada di Lampung.
Dengan potensi sumber daya pertanian yang besar, hilirisasi mampu memperkuat ekonomi daerah.
Pengamat Ekonomi Lampung Asrian Hendi Caya menilai sektor pertanian Lampung memiliki basis yang kuat untuk berkembang ke arah industri hilir.
Namun, penguatan hilirisasi membutuhkan dukungan kebijakan yang konsisten, termasuk dari sisi pembiayaan.
Baca juga : Akselerasi Produksi Pertanian Dorong Ketahanan Pangan Nasional
“Potensi sumber daya pertanian cukup besar. Karena itu, 2026 hilirisasi harus kuat, termasuk melalui dukungan pembiayaan kredit,” ujar Asrian.
Menurutnya, kebijakan pemerintah pusat yang menetapkan Lampung sebagai sentra industri bioetanol berbasis singkong menjadi peluang strategis.
Kebijakan tersebut sejalan dengan karakteristik komoditas unggulan Lampung.
“Keputusan pemerintah pusat menjadikan Lampung sebagai sentra industri bioetanol terutama berbasis singkong perlu dukungan,” kata dia.
Penguatan hilirisasi juga harus searah untuk memperluas peran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Selama ini, UMKM Lampung telah berkembang cukup baik, terutama pada sektor industri makanan.
Namun, menurutnya, pengembangan hilirisasi ke depan tidak cukup berhenti pada industri pangan.
Perluasan ke sektor lain cukup penting untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing daerah.
“Ke depan, harus adanya perluasan ke industri farmasi, kosmetik, dan lainnya,” ujarnya.
Sisi Pembiayaan
Dari sisi pembiayaan, pertumbuhan kredit investasi turut memperkuat iklim investasi Lampung. Asrian mencatat, kredit investasi menunjukkan tren pertumbuhan yang cukup positif.
“Kredit investasi tumbuh sekitar 11–12 persen, hal ini memperkuat tumbuhnya investasi yang mendorong pertumbuhan ekonomi Lampung,” ujarnya.
Ia menambahkan, pertumbuhan kredit investasi juga berdampak pada peningkatan konsumsi masyarakat.
Konsumsi masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian Lampung.
“Kredit investasi tumbuh, juga mendorong tumbuhnya konsumsi. Konsumsi berkontribusi besar dalam perekonomian Lampung. Sektor ini tumbuh sekitar 5 persen lebih baik dari 2024,” katanya.
Meski begitu, Asrian menilai investasi Lampung masih menghadapi tantangan struktural. Salah satunya adalah tingkat efisiensi investasi yang dinilai masih rendah.
“Namun investasi masih terkendala ICOR yang cukup tinggi masih ada pada nilai atas 6. Hal ini kurang efisien sehingga daya saing kurang,” ujarnya.








