Rumah Sakit Ngelip!

Iskak Susanto, wartawan Lampung Post

MENGUPING pembicaraannya, dua orang yang sedang santap malam ini berasal dari Lampung Timur dan tengah menunggui keluarganya yang dirawat.
"Siapa yang sakit, Mas," tanyaku saat duduk berhadapan di sebuah warung makan dekat RSU Ahmad Yani Metro sekitar dua bulan lalu. "Bapak Mas. Biasalah penyakit orang tua," ujar seorang yang bertubuh gemuk tanpa menjelaskan penyakit apa sesungguhnya.
Aku pun tak tertarik menanyakan apa penyakitnya. Yang membuatku tertarik justru alasannya berobat ke RSUAY yang jaraknya hampir 60 km dari rumah mereka di Kecamatan Way Jepara. "Kok enggak ke rumah sakit di Sukadana saja. Kan lebih dekat," tanyaku.
Kali ini, keduanya menjelaskan dengan antusias bahkan cenderung curhat. "Ini bukan maunya yang sakit. Tapi siapa yang bakal nunggu. Soalnya, kalau di sana, mau makan saja susah. Mana bisa malam-malam seperti ini keluar cari makan. Jarang ada warung, selain itu kami juga takut keluar malam di sana," ujarnya.
"Kalau yang sakit mah manut saja mau dibawa ke mana. Wong dia enggak bakal ke mana-mana juga. Di tempat tidur saja kan," ujar pemuda satunya, adik si gemuk yang mengaku bernama Manto.
Menurut dia, kalau berobat di Metro, malah banyak kerabat yang menyatakan siap menunggui pasien. "Kalau di Sukadana, susah nyari yang mau gantian nungguin," ujarnya.
***
Sabtu (25/2/2017), Menteri Kesehatan Nila Djuwita F Moeloek beserta jajaran dari Pemerintah Provinsi Lampung meninjau bangunan Rumah Sakit Umum Bandar Negara Husada, Kotabaru, Lampung, yang rencananya bakal diresmikan pada Juni 2017 mendatang.
Beberapa dokter spesialis, yaitu dokter spesialis anak, kandungan, bedah, dan penyakit dalam pun bakal ditugaskan di sana. Rumah sakit milik provinsi yang setara dengan RS tipe C itu nantinya dilengkapi dengan 100 tempat tidur yang semuanya kelas tiga.
Keberadaan rumah sakit itu merupakan salah satu jawaban sulitnya pengembangan lokasi rumah sakit di tengah kota.
Tetapi, lokasinya yang sekitar 30 km dari pusat kota—20 km lebih, di antaranya melewati daerah sepi, tanpa permukiman dengan kondisi jalan yang belum bisa dibilang baik—jelas butuh daya tarik lain untuk mengunjunginya.
Menteri boleh saja menyatakan rumah sakit itu akan cepat berkembang karena dekat dengan jalan tol dan daerah industri. Tetapi, hampir 20 km dari jalan tol bukan jarak yang dekat. Daerah industri pun masih jauh untuk menjangkau rumah sakit tersebut.
Selama jalan dan daerah sekitarnya masih berupa hutan, Manto dan kakaknya akan berpikir beberapa kali untuk merawat sang ayah di rumah sakit ini. Manto dan kakaknya pasti akan bilang, rumah sakit kok ngelip banget ya...? n